Rabu, 12 Juni 2013

Komnas HAM Sesalkan Aksi Polisi Koboi di Poso


Densus Kembali berulah, seperti di kabarkan okezone berikut selengkapnya.
Komnas HAM menyesalkan aksi Densus 88 menembak mati seorang warga Poso, Sulawesi Tengah, bernama Nudin yang dituduh sebagai pelaku teror. Apalagi penembakan dilakukan saat korban dalam kondisi tidak berdaya.

“Komnas HAM meminta Densus jujur mengakui dan jangan memelintir fakta seolah-olah korban melakukan perlawanan dengan menembak petugas. Kita mendapatkan fakta bahwa korban sama sekali tidak bersenjata dan tidak melawan,” ujar Komisioner Komnas HAM Siane Indriani kepada Okezone di Jakarta, Selasa (11/6/2013).

Penembakan Nudin bermula kala korban yang mengendarai motor Revo DN 4159 EI pada Senin 10 Juni 2013 sekira pukul 15.35 Wita melintas di Jalan P Seram. Saat itu korban sudah dibuntuti oleh anggota Densus.

Selanjutnya, pada pukul 15.40 Wita ketika sampai di Jalan P Irian, tepatnya di depan lorong P Seribu motor tersebut ditabak oleh mobil anggota Densus yang telah membuntuti sebelumnya.

Setelah motor terjatuh terduga yang berjumlah dua orang sempat melarikan diri masuk ke dalam lorong Jalan P Seribu. Karena melihat terduga lari, maka anggota Densus melepaskan tembakan sebanyak 8 kali dan satu orang berhasil ditangkap dengan luka tembak dan satu orang berhasil melarikan diri. Sementara sepeda motor yang digunakan terduga jaringan kelompok radikal tertinggal di tempat kejadian perkara dan diamankan oleh anggota Koramil Poso Kota.

Mendengar ada warganya ditembak mati, masyarakat Poso bereaksi. Mereka memukul tiang listrik dan massa pun berkumpul, selanjutnya menuju Mapolres Poso menuntut agar jenazah korban diserahkan.

“Tindakan Densus yang sangat represif ini malah memprovokasi kemarahan warga. Kita berharap massa bisa menenangkan diri, jangan terpancing karena akan justru menimbulkan korban-korban lain. Kemarin Poso dalam situasi mencekam,” ujarnya.

Sehubungan dengan kasus ini, Komnas HAM juga menyesalkan pernyataan Kabag Penum Mabes Polri Boy Rafli Amar yang menyatakan petugas terpaksa menembak mati korban karena melakukan perlawanan dan membahayakan anggota di lapangan.

“Kita sesalkan pernyataan Boy Rafli yang berlawanan dengan fakta di lapangan,” kecam Siane.



(news.okezone)